Kisah Perang Pangeran Diponegoro

2 01 2013

Tahun Seribu delaparatus duapuluh tujuh (1827), Belanda dipaksa mengubah strategi perangnya. Seberapa besarkah kekuatan Militer Pangeran Diponegoro hingga membuat Belanda kocar-kacir? Apa yang menjadi motivasi perang Diponegoro dan pengikutnya?  Kedua faktor yang memperpanjang durasi peperangan dan membuat kekuatan militer Diponegoro tidak mudah ditundukkan.
Bayangkan… Jenderal De Kock sampai mengadopsi kontra strategi Stelsel Benteng dari Napoleon… Sejumlah 258 benteng (fort de Kock) dibangun dalam kurun 2 tahun.  Benteng Stelsel atau Aturan Benteng merupakan sebuah strategi perang yang diterapkan oleh Belanda untuk mengalahkan  Pasukan Pangeran Diponegoro. Secara garis besar strategi perang ini adalah di setiap kawasan yang sudah berhasil dikuasai Belanda, dibangun benteng pertahanan atau kubu pertahanan, kemudian dari masing kubu pertahanan tersebut dibangun infrastruktur penghubung seperti jalan atau jembatan. Konsekuensi finansial yang besar untuk strategi Stelsel Benteng hingga Belanda menyebut Perang Diponegoro sebagai groote onheilen (bencana besar) bagi administratif Kolonial. Defisit anggaran mereka sampai f18.000.000 Gulden (sekira Rp 92 184 993 726.47). Dan tahun 1827 saja tidak kurang dari 3000 orang serdadu Eropa tewas di hadapan kedigdayaan Tentara Islam Diponegoro.
Upaya diplomatik juga ditempuh Belanda dengan merapat kepada Alibasah Sentot Prawirodirdjo. <Alibasah adalah pangkat dalam organisasi militer Diponegoro setingkat Komandan Divisi: Satuan tempur militer terbesar, dengan kekuatan penuh>.

Dikotomi antara Penguasa dan Pemberontak

Perang yang terjadi dalam satu wilayah kedaulatan negara dalam sejarah militer disebut perang kecil (small war). Pemberontakan, revolusi atau perang saudara adalah bentuk dari aksi politik dalam perang kecil (PMH Groen, Guru Besar Sejarah Militer, Rijks Universiteit, Leiden). Teori tersebut mendasari pandangan Belanda terhadap perlawanan Diponegoro dan umatnya sebagai aksi politik yang dilakukan oleh orang Jawa untuk merebut kembali kedaulatannya. Perang kecil  (Oorlog) dalam arti sebagai sebuah kampanye militer yang dilakukan oleh tentara reguler  terhadap kekuatan militer bukan reguler. Formatnya digelar sebagai aksi penumpasan pemberontak (Java Oorlog, Atjeh Oorlog), penaklukan atau aneksasi wilayah, atau aksi penghukuman atas penghinaan kedaulatan.
Di samping beberapa pertanyaan yang menyeruak di muka juga terdapat beberapa bahan renungan untuk menguak ‘misteri sejarah’ Perang Diponegoro dan korelasinya dengan Perjuangan Umat Islam Bangsa Indonesia yang dilakukan oleh generasi setelahnya: seperti  ‘mata rantai sejarah yang terputus’ dalam tuturan sejarah Perjuangan umat ini.
Tidak seperti yang digembargemborkan oleh beberapa penutur sejarah. Yang mengatakan bahwa perang Diponegoro dipicu oleh perang dinasti antara kasultanan Mataram dan Surakarta. Dan masalah patok kuburan leluhurnya yang dilanggar. Dan berbagai mitos murahan yang dijejalkan ke dalam ingatan kolektif bangsa ini. Fakta sejarah Diponegoro diselimuti  konspirasi. Pemikiran Sejarah haruslah logis, kata Hacket Fischer, agar mencegah kekeliruan penuturan sejarah. Logikanya, butuh lebih dari itu untuk melangsungkan perang panjang yang dampaknya hingga menguras anggaran belanja sebuah negara.

Dua faktor yang mendukung keberlangsungan perlawanan Diponegoro menjadi demikian hebatnya:

faktor yang pertama, Perang Diponegoro Bertujuan mempertahankan kedaulatan negara.

Kegiatan perlawanan militer Diponegoro adalah dalam kerangka penegakan Balad al Islam.
Ada Tiga indikasi yang menunjukkan Perang Diponeogoro bertujuan mempertahankan negara:
  • Memiliki ideologi (sumber ideologi) berperang untuk mendirikan negara yang Berkeadilan yang Berdasarkan Agama Islam. Aksi kolektif militer Diponegoro jelas bertujuan untuk mendirikan balad (negara ) Islam yang sekaligus merupakan bentuk reaksi penolakan terhadap perluasan pengaruh kapitalisme atau liberalisme yang dianggap mengganggu sistem sosial dan keagamaan di Tanah Jawa
  • Memiliki Organisasi dan kondisi masyarakatnya yang mendukung. Kepemimpinannya mampu mendidik masyarakat, memupuk semangat, dan memberikan tujuan. Implikasi positifnya Pangeran Diponegoro memiliki Hegemoni Politik di wilayahnya.
  • Bentuk penolakan terhadap kedaulatan, sistem asing, yang bathil.  Di samping itu Sistem organisasi militer Pangeran Diponegoro- yang berkiblat ke Sistem militer KeKhalifahan Turki Usmani-menunjukkan sikap hubungan formal bilateral antar dua kekuasaan politik. Terkait dengan kedaulatan, ada hubungan politik antara Pangeran Diponegoro dengan Khalifah di Turki. Bulkiyo yang berasal dari istilah Bolzuk atau divisi pasukan elite Turki Usmani Janissari abad ke-16, juga digunakan sebagai nama korps pasukan elite Diponegoro.

faktor yang kedua, Kekuatan motivasi dan kecakapan para pemimpin perang Diponegoro dalam mengelola aksi-aksi untuk mencapai tujuan.

Kemampuan para pemimpin perang Diponegoro dalam menggali dan mengolah emosi masyarakatnya agar tetap berkeyakinan terhadap perjuangan, merupakan salah satu faktor pendukung hingga peperangan bisa berlangsung lama. Secara Umum Kecakapan itu Tercermin  dari munculnya strategi baru sebagai balasan untuk strategi Stelsel Benteng. Strategi langsung yang mengandalkan keunggulan jumlah tentara yang diterapkan Diponegoro sebelumnya sudah tidak efektif kemudian digantikan dengan strategi atrisi (die Ermatung Strategie). Strategi Penggerogotan mengubah sifat perangnya menjadi perang jangka panjang.
Ke lain sisi, indikasi tersebut menunjukkan bahwa diskursus (wacana) tentang negara islam (balad al islam) di tanah Jawa sudah ada dari jaman Pangeran Diponegoro. Bahkan bukan sekadar  wacana, melainkan bagaimana untuk mempertahankannya. Bahkan jika mundur jauh ke belakang, mengingat haluan politik Islam di masa Kekhalifahan pasca Rasulullah saw,  tentu dari  masa mereka sudah ada perwakilannya untuk berdaulat di tanah Jawa. Jika sekarang diskursus tentang itu kembali hangat, mestinya umat tidak perlu merasa heran. Berarti ada yang memelihara kesinambungan perjuangan islam di tanah Jawa sesudahnya. Sebagai sebuah upaya rekonstruksi sejarah dan mengembalikan visi dan misi Islam kembali ke jalurnya. Yang harus menjadi pertanyaan adalah siapa yang menjadi pelanjut perjuangan itu di masa kolonial Belanda? Bagaimana korelasinya dengan masa sekarang dan yang akan datang?
Aja anglaaken wong kang becik,
lan aja ambecikaken wong kang ala,
lan aja anganiaya wong akeh.
Jangan menjelekan orang baik,
Jangan membaikan orang yang jahat,
Jangan berbuat aniaya terhadap rakyat banyak
~Diponegoro.~

About these ads

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: